Siapa Anda bukanlah Masalah

Pada artikel kali ini saya akan menceritakan tentang sebab, akibat dan penyebab dari yang terjadi dalam suatu proses kehidupan yang harus kita sadari bahwa ia tidak selalu relevan seperti yang terlihat pada akibat yang ditimbulkan/dihasilkan. 

Proses tersebut tidak terjadi begitu saja, selalu ada penyebab yang menyebabkan proses tersebut terjadi dan penyebab itu tidaklah selalu berbentuk sama dengan hasil proses itu sendiri.

Daripada bingung membaca pendahuluan diatas, lebih baik langsung baca saja cerita berikut ini : 

Seorang Pemuda terpelajar dan sukses dalam kariernya sebagai direktur di salah satu perusahaan farmasi terkenal di Surabaya sedang melakukan perjalanan dengan pesawat ke Jakarta untuk menghadiri peresmian kantor baru. Disampingnya duduk seorang ibu renta.  si pemuda menyapa dengan ramah dan tak lama waktu berselang mereka menjadi semakin akrab dan larut dalam sebuah obrolan ringan.

"Ibu ada rencana apa pergi ke Jakarta?, saya ke Jakarta hanya transit dan akan "Connecting Flight" ke Singapura nengokin cucu dari anak ke-2 yang tinggal disana". Jawab ibu itu.

Si pemuda ini berpikir kemudian berkata, "Wah, hebat sekali putera ibu". dan mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan pertanyaannya, "kalau tidak salah, anak ibu yang di Singapura tadi adalah anak yang ke-2 ya, lalu bagaimana dengan kakak dan adik-adiknya?". Ibu itu menjawab, "anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 seorang insinyur perkebunan di Jambi, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala cabang bank nasional di Bandung. Anak saya yang bungsu menjadi dosen di Yogyakarta.

Di dalam hati pemuda ini sangat kagum kepada ibu ini, bisa mendidik semua anak-anaknya dengan sangat baik hingga meraih sukses. "Lalu bagaimana dengan anak sulung ibu?". dengan menghela nafas panjang ibu itu menjawab, "Anak sulung saya hanya seorang petani di daerah Lumajang, yang menggarap sawah sempitnya sendiri". Pemuda itu segera menyahut dengan perasaan tidak enak terhadap ibu tersebut, "Maaf ya bu, agaknya ibu kecewa terhadap anak sulung ibu itu ya... adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses sedangkan dia hanya seorang petani."

Dengan senyum lebar ibu itu menjawab," Ooh tidak nak... Saya justru sangat bangga terhadap anak sulung saya, karena dia-lah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani, sehingga adik-adiknya beroleh kesuksesan".

Pemuda tersebut terdiam mendengarkan penjelasan ibu tersebut, dia berpaling dari ibu tersebut dengan memandang keluar jendela pesawat sehingga dia larut dalam lamunannya yang mendalam, ia teringat akan ayahnya yang hanya seorang supir, yang selama ini banting tulang demi membiayai sekolahnya sehingga dia dapat meraih kesuksesan seperti saat ini.

pesan moral yang saya dapat dari cerita ini :
  • Kita tidak dapat membuat kesimpulan yang benar, sebelum kita membaca buku tersebut sampai selesai.
  • Hal yang terpenting dalam hidup adalah : bukanlah SIAPAKAH ANDA tetapi APA YANG SUDAH ANDA LAKUKAN.

Mudah-mudahan cerita diatas bisa menjadi motivasi buat kita semua. bila anda setuju dengan saya, silahkan comment di kolom komentar ya?... terima kasih telah berkunjung.

baca juga :
Surat seorang anak yang di aborsi kepada bundanya
Aku akan Selalu Mencintaimu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar