Legenda Betawi "Si Pitung"


Salikun atau yang lebih dikenal dengan nama Si Pitung ini lahir pada awal 1864, di daerah Rawabelong (Paalmerah) di kawasan Pengumben, putera dari pasangan Panimin dan Sa’pinah. Pitung yang dikenal sebagai jawara Betawi ini dikenal memiliki ilmu silat yang tinggi dan perampokan yang sering dilakukannya kepada para musuh rakyat seperti pejabat-pejabat kolonial, rentenir, tauke dan tuan-tuan tanah membuat resah pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu.
Berdasarkan berita yang dimuat pada surat kabar Bintang Barat dibawah pimpinan E.F Wiggers, seorang oknum polisi yang membuat onar di warung dipermalukan oleh seorang pemuda lokal yang bertubuh kecil sambil mengacungkan golok kearah serdadu Belanda. Sepak terjang jagoan Betawi ini sangat dibanggakan oleh warga masyarakat Betawi. Kehadiran Pitung dinilai sebagai representasi masyarakat pada masa itu, yang dibelenggu oleh kemiskinan dan penindasan Belanda.

Menurut cerita dari orang-orang Si Pitung punya ilmu yang luar biasa. Ilmu rawa rontek yang terkenal dan menjadi legenda, konon ilmu yang di miliki oleh Si Pitung ini  dapat menyerap energi lawan-lawannya hingga seolah-olah dia menjadi dapat menghilang. Sehingga dia nyaris tidak pernah tertangkap saat menjalankan aksinya dalam merampok para pejabat kompeni, rentenir dan tauke-tauke pada jaman itu.
Pemerintah Hindia Belanda yang resah pada saat itu mencari akal untuk memusnahkan si Pitung beberapa orang lokal telah mereka bayar untuk mencari kelemahan si Pitung, berbagai usaha pemerintah Hindia Belanda sebelumnya telah sia-sia dan menemukan jalan buntu, akhirnya mereka mulai mempelajari ilmu yang dimiliki si Pitung.

Menurut dari seorang penduduk yang dibayar oleh pemerintah Hindia Belanda yang tamak akan harta kekayaan dan mengetahui seluk beluk tentang ilmu rawa rontek yang konon dimiliki si Pitung membeberkan semuanya kepada pemerintah Hindia Belanda. Dia menjelaskan bahwa Rawa rontek yang arti bahasanya adalah "Kepala Putus", konon dapat membuat pemiliknya menjadi kebal dari senjata tajam, senjata api, racun atau pun santet/sihir.

Ada beberapa tingkatan pada ilmu rawe rontek. Pada tingkat rendah jin hanya bersemayam di aura pemiliknya dan menjadikan dia tahan pukulan dan bacokan.

Tingkat menengah jin sudah menempel di kulit pemilik. Kulit akan terasa keras seperti batu karang, sehingga dapat menahan hantaman peluru dari senjata api.
Selanjutnya di tingkatan tinggi. Jin sudah memasuki sel-sel tubuh. Sehingga mampu membangkitkan energi tenaga dalam, dan mampu merekayasa percepatan regenerasi sel di dalam tubuh. Oleh karena sel tubuhnya akan terus beregenerasi dengan cepat.

Tidak banyak orang yang mampu menguasai ilmu rawa rontek. Sebab untuk memperoleh ilmu ini bukan hal yang gampang. Harus melewati ritual yang berat untuk menguasai ajian ini. Dan harus dibarengi pula dengan keyakinan yang penuh. Terdapat rapalan khusus dan kesediaan berpuasa 40 hari dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Berdasarkan keterangan lengkap dari seorang penghianat rakyat ini maka pemerintah Hindia belanda memerintahkan unit Marsose untuk menghabisi si Pitung dengan senjata api berpeluru emas yang ditembakkan tepat di dada si Pitung, dan dilanjutkan dengan bacokan kelewang di tambah tembakan peluru-peluru dari senjata aparat kompeni dapat menjatuhkan si Pitung.

Pitung menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Stadeverban Glodok pada tanggal 14 Oktober 1893 pada umur 29 tahun, dan dikebumikan di Rawabelong, tanah kelahirannya (tepatnya di depan kantor TELKOM jalan raya Kebayoran Lama, Sukabumi Utara, kebon Jeruk, Jakarta Barat).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar