Masa Depan_mu Tergantung dari Pola Pikir_mu

Seorang Saudagar kaya raya dari daratan China sekarat dan sedang bergelut dengan maut, sadar akan waktunya yang hampir tiba, ia segera meminta isterinya untuk mengumpulkan kedua puteranya.  Ketika dua puteranya itu bersimpuh di samping saudagar itu maka ia segera angkat bicara khawatir maut lebih dahulu datang menjemput.

Dalam wasiatnya yang terakhir ayah tersebut membagikan seluruh hartanya secara merata dan memberikan mereka warisan masing-masing sebuah toko untuk mereka kelola dan kembangkan dan memberikan 2 syarat ilmu berdagang yang menjadi rahasia kunci kesuksesan-nya selama ini.

Syarat pertama adalah bahwa mereka tidak boleh menagih piutang kepada siapapun dan syarat yang ke-dua adalah dalam mengelola usahanya mereka tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung. 2 syarat ini tentunya semakin membingungkan kedua puteranya, tapi karena tidak memungkinkan untuk meminta penjelasan maka kedua puteranya hanya bisa mengiyakan persyaratan dari ayah mereka.

Akhirnya sang saudagar tua itu pun meninggal dengan tenang karena telah menyampaikan wasiat penting untuk bekal masa depan anak-anaknya. Prosesi pemakaman pun dilaksanakan dengan sakral dan hidup terus berlanjut.

Tahun demi tahun telah terlewati semenjak kematian dari ayah mereka, sang Ibu memperhatikan perkembangan kedua puteranya yang terlihat sangat mencolok terutama dari segi ekonomi. Putera pertama-nya sangat sukses dalam ekonomi sedangkan putera bungsu nya sangat berbeda, ekonomi yang tidak menentu dan cenderung bangkrut membuat sang ibu penasaran dan mencoba mengunjungi putera bungsunya.

Sang ibu merasa sangat iba melihat kondisi si bungsu dan menanyakan penyebab dari semua ini, si bungsu mengatakan bahwa semua ini terjadi karena dia telah menuruti 2 syarat yang dipesan oleh ayahnya sebelum meninggal bahwa dia TIDAK BOLEH MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN, sedangkan para pelanggan tidak berniat membayar apabila tidak ditagih sehingga membuat modal si bungsu kandas, di tambah syarat TIDAK BOLEH TERKENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG maka dia menyewa jasa pengangkutan privat yang mahal sehingga dia tidak terkena sinar matahari secara langsung dan membuat modalnya semakin menyusut.
Mendengar cerita si bungsu maka sang ibu menghiburnya dengan berkata, "Engkau adalah anak yang berbakti, karena engkau menepati janjimu kepada ayah."
Setelah itu sang ibu pergi berkunjung kerumah putera pertamanya, disitu kondisi sangat berbeda dengan rumah si bungsu, lalu sang ibu bertanya hal yang sama kepada putera pertamanya. Putera pertamanya juga mengatakan bahwa dia bisa meraih sukses berkat 2 pesan terakhir dari ayahnya. Sang ibu bingung dan karena rasa penasarannya ia bertanya tentang apa yang di pesan ayahnya sebelum meninggal.

Putera pertamanya mengatakan bahwa ayahnya berpesan untuk TIDAK MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN, maka dia tidak pernah memberikan hutang sehingga modal dagangnya semakin meningkat. kemudian TIDAK BOLEH TERKENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG maka dia membuka toko pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit dan menutup tokonya sesudah matahari terbenam, toko saya dikenal buka paling pagi dan tutup paling malam sehingga toko saya banyak diserbu para pelanggan.
Mendengar jawaban putera pertamanya sang ibu manggut-manggut dan kagum akan jawaban putera pertamanya itu.
Satu pernyataan yang sama mengandung banyak persepsi yang berbeda, tergantung dari masing-masing pribadi dalam mengartikannya, hasil yang ditimbulkan pun akan berbeda pula. Tokoh putera sulung merupakan gambaran kepribadian yang matang sehingga ia dapat mengartikan pesan ayahnya itu dengan positif, sedangkan tokoh Si bungsu dari cerita diatas merupakan gambaran pribadi yang hijau, menafsirkan perkataan ayahnya secara lugas tanpa bertanya dulu kepada kakaknya sehingga dia mengalami nasib yang berbeda dengan saudara sulungnya.
baca juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar