Ketika anda seorang "bisnis man, pengusaha, atau konglomerat" ? punya banyak duit,
harta, mobil, emas, dan dapat membeli apa saja yang anda mau, tapi
apakah anda dapat membeli kebahagiaan, terutama kebahagiaan buah hati
dan pasangan anda ?
Dhaniel seorang direktur di salah satu perusahaan swasta di
Jakarta yang sangat padat jadwalnya. Seperti hari-hari sebelumnya malam itu
Dhaniel pulang larut malam karena terjebak kemacetan yang sudah merupakan
sajian sehari-hari dari ibukota tercinta. Ketika Dhaniel membuka pintu
rumahnya, matanya menuju ke depan televisi yang masih menyala dan anaknya Lusi
terlelap di atas sofa di depan televisi.
Dhaniel menghampiri Lusi bermaksud menggendongnya ke tempat tidur,
tapi tiba-tiba Lusi terbangun dan mengucek-ngucek matanya sambil berkata “Papa
baru pulang?”. “Ya” jawab Dhaniel. “...dan kenapa kamu belum tidur, besok kan
kamu sekolah?” sambil mencium dahi anaknya itu. Biasanya, Lusi memang sudah tertidur
ketika Dhaniel pulang dan belum terjaga ketika Dhaniel akan berangkat ke kantor
pagi hari.
“Aku nungguin Papa pulang, karena aku mau tanya berapa sih gaji
Papa?”
“Lho, tumben,... kok nanya gaji Papa? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak kok, yang kemarin Papa kasih masih ada sisa. Aku cuma pengen
tahu aja.”
“Baiklah,
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam, dan setiap bulan rata-rata
dihitung 25 hari kerja, 1 bulan papa dibayar 15 juta Rupiah, Jadi...
kamu bisa hitung
sendiri kan ?...”
Lusi bergegas mengambil kertas dan pensil dari meja belajar,
sementara Dhaniel menuju ke kamarnya dan Lusi lari mengikuti. “Kalau satu bulan
Papa dibayar 15 juta Rupiah untuk 1 bulan dan di hitung rata-rata 10 jam/hari kerja, berarti 1 jam ayah digaji Rp 60.000,-
dong,” katanya.
“Wah, pinter anak Papa... Sudah..., sekarang cuci kaki dan bobo
sana,” perintah Dhaniel.
Tetapi Lusi masih tak bergeming dari tempatnya, sambil menyaksikan
Papa nya berganti pakaian, Lusi kembali bertanya, “Papa... aku boleh pinjam
uang Rp. 10.000 ?”
“Aduh,.. ada apalagi ini
?, ga usah macam-macam ya Lusi,... Untuk apa kamu minta uang
malam-malam begini? Papa capek, Papa mau mandi dulu.”
“Tapi, Pa...”. “Papa bilang tidur !!!...” hardiknya mengejutkan
Lusi sehingga Lusi pun berbalik dan berlari ke arah kamarnya, Seusai mandi
Dhaniel tampak menyesal telah menghardik anaknya dan sevelum tidur dia
menyempatkan diri menengok anaknya, Lusi belum tidur dan terlihat dia menangis
terisak sambil menggenggam uang Rp. 20.000,-.
Sambil berbaring di sebelahnya dan mengelus kepala bocah kecil itu,
“Maafkan Papa beib... Papa sayang sama Lusi. Tapi untuk apa sih minta uang
malam-malam begini?” Jangankan Rp. 10.000,- lebih dari itu Papa berikan. “Papa,
aku nggak minta uang, aku pinjam,... nanti aku kembalikan kalau sudah menabung
lagi dari uang jajan minggu ini.”
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Dhaniel lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8, karena aku mau ajak Papa main Halma.
30 menit saja, tapi mama sering bilang kalau waktu papa itu sangat berharga. Jadi
aku mau beli waktu papa 30 menit saja. Sisa uang jajanku tinggal Rp. 20.000,-
jadi masih kurang Rp. 10.000,- untuk membeli waktu papa selama 30 menit. Maka aku
pinjam Rp. 10.000 dulu sama Papa dan akan aku kembalikan pada saat aku menerima
uang jajan mingguanku nanti, aku janji Pa...” dengan mata yang berkaca-kaca
memelas.
Dhaniel terdiam, tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun, dan
matanya pun mulai berkilat karena air mata yang tak terbendung. Ia baru sadar
bahwa selama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak mempunyai
waktu untuk anaknya.(nn)
Tak
peduli kisah ini nyata atau tidak, tetapi ada satu pesan yang ingin
disampaikan dari kisah ini, Ingatkah anda pada saat anak anda sakit yang
merawatnya adalah seorang baby sitter, ingatkah anda yang mengantar
anak anda ke sekolah adalah si supir? pertanyaannya adalah : "Dimana
anda saat itu?". Anak perlu sesuatu yang lebih dari segala fasilitas
yang anda sediakan baginya, mereka butuh sesuatu yang tidak dapat
diungkapkan oleh kata-kata, mereka perlu perhatian, kasih sayang dan
waktu anda yang berharga.
Baca juga kisah lainnya :
Siapa Anda Bukanlah Masalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar