Alkisah jaman dulu hidup seorang lelaki tua yang tinggal sendiri di puncak gunung. Lelaki tua itu adalah seorang sannyasi (Orang yang menyerahkan seluruh harta duniawinya dan mempersembahkan hidupnya untuk spiritualisme). Setiap pagi saat bangun lelaki tua itu menghadapkan tubuhnya ke arah timur. Sambil menyaksikan terbitnya sang surya lelaki tua itu memanjatkan doa-doanya, hidup yang begitu tenang, sederhana dan jauh dari kehidupan yang berbau duniawi.
Sementara itu, di desa yang terletak di kaki gunung beredar gosip tentang dirinya yang mengatakan bahwa orangtua itu bukanlah orang yang saleh. Tetapi dia adalah orang yang kaya raya yang pindah dan menetap di puncak gunung untuk menyembunyikan harta-harta nya dari tangan-tangan jahat yang berusaha mencuri hartanya.
Diantara warga ada seorang petani miskin, suatu malam ia bermimpi dalam tidurnya,ia melihat sebongkah batu ruby yang sangat besar dan memukau, warnanya begitu terang bak cakrawala saat matahari terbit. dan dalam mimpi itu diketahui pemiliknya adalah sang sannyasi.
Saat bangun si petani itu berniat untuk memiliki batu permata tersebut. Mungkin jika memintanya dengan baik-baik maka si lelaki tua itu dapat memberikannya. Pagi-pagi sekali sebelum warga desa bangun si petani melakukan pendakian yang panjang ke puncak gunung.
Sementara itu si lelaki tua sedang melakukan ritualnya seperti biasa, namun kali ini dia mendengarkan langkah kaki di belakangnya. Ketika si lelaki tua itu berbalik, ia melihat seorang petani yang berpakaian lusuh. Sambil membungkukkan badan lelaki tua itu menyapa si petani dengan ramah. "Selamat pagi kisanak, apakah anda ingin ikut berdoa dengan ku?". Petani itu gugup tetapi dia tidak sedang ingin berdoa. ia tidak bisa menepis bayangan batu Ruby dalam mimpinya semalam sehingga tanpa pikirpanjang si petani berkata,"Tidak, wahai lelaki tua. Aku datang kemari untuk mendapatkan batu Ruby. Aku melihatnya dari mimpiku.Apakah engkau memiliki permata tersebut yang akan kau berikan kepadaku?". Lelaki tua itu tidak menyahut. Ia hanya menjulurkan tangan ke arah gundukan rumput tinggi dan mengambil sebutir Ruby yang besar, sebesar kepala lelaki dewasa dan memberikannya kepada si petani itu. "Ini, ambillah disertai berkat dariku."
Si petani terkesima melihat permata yang begitu indahnya, persis seperti di dalam mimpinya. Dengan mulut menganga petani menggenggam Ruby itu dengan kedua tangannya. "Engkau adalah terlalu baik!!..." ucap petani itu dengan suara gemetar. si lelaki tua anya tersenyum kecil mendengar ucapan petani itu. Sambil menyembunyikan batu yang didapatnya itu dibalik baju lusuhnya yang compang camping, petani itu bergegas berlari menuruni gunung dan setibanya di desa, si petani langsung masuk ke gubuk nya dan meletakkan permata itu di atas meja kayunya yang kecil sambil memandang kagum ke arah permata itu, memutar-mutar batu itu, mengelus-elusnya serta mencium permukaaannya yang dingin.
"Aku adalah pria paling beruntung didunia" ucapnya. Dan sepanjang hari si petani hanya termangu disana menatap batu yang indah tersebut dan berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya karena hidupnya kini telah berubah. Si petani berniat untuk menjual batu tersebut dengan harga yang sangat tinggi di kota esok hari, tetapi rasanya tidak akan ada yang sanggup membelinya dengan harga yang layak mengingat ukuran batu itu sangat besar. Lalu petani itu berubah pikiran dengan niat membawa batu itu ke tukang batu permata dan memotong batu tersebut menjadi beberapa bagian kecil, tetapi bagaimana kalu tukang batu membocorkan rahasia ini dan membeberkan masalah ini kepada orang-orang? bisa-bisa perampok mendatangi gubuk si petani dan berusaha merebutnya dan petani itu tidak akan bisa lagi hidup tenang.
Sepanjang malam si petani hanya duduk termangu memandang permata itu. Lama kelamaan si petani itu memikirkan si lelaki tua diatas gunung, terutama betapa mudahnya si lelaki tua menyerahkan permata itu kepada si petani. Ia memikirkan kehidupan sederhana dari si lelaki tua, jubahnya, pengabdiannya dan senyumnya yang tulus.
Maka sekali lagi sebelum sang fajar tiba, si petani itu kembali menaiki gunung bersama batu Ruby ditangannya. Sesampainya si petani di puncak gunung, si lelaki tua itu menyapa ramah. Si petani menyerahkan Ruby tersebut kepada lelaki tua."Aku tidak mau menyimpan batu ini, tetapi aku punya satu permintaan, aku ingin engkau menjadi guruku dan ingin belajar bagaimana kau menyerahkan permata itu kepadaku dengan begitu mudahnya".
Si lelaki tua tersenyum dan berkata, "Anakku... sesungguhnya engkau sudah mulai belajar".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar