Karyawan yang Setia

Di sebuah kantor, seorang karyawan tampak gelisah. Ia sangat bingung dengan perlakuan atasannya yang menurutnya tidak adil terhadap dirinya. Setiap hari secara bergantian karyawan-karyawan yang lain mendapatkan hadiah dari atasannya itu. Mulai dari perhiasan, emas batangan dan berlian dan lain-lain. Kebiasaan itu memang sering dilakukan atasannya semenjak kematian istri dan anaknya dalam kecelakaan pesawat 3 tahun silam.

Hanya sekejap semua karyawan di kantor tersebut menjadi makmur dan sejahtera hidupnya, Ada yang membiasakan diri dengan berpakaian bagus, ada juga yang memakai cincin emas di jari manisnya, dan hampir seluruh karyawan yang datang ke kantor dengan mengendarai motor atau menumpang angkot seperti dulu. Perubahan yang sangat mencolok terjadi di kantor itu, dahulu para karyawan pulang sampai larut malam untuk mendapatkan lembur tetapi sekarang mereka selalu pulang lebih awal. Tinggallah satu karyawan yang miskin, bahkan tak ada penjelasan sedikitpun dari sang atasan. 

Hingga pada suatu hari kekecewaannya sudah tak terbendung dan karyawan tersebut pergi menghadap atasannya. "Pak, saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini". sambil menunduk dalam-dalam tak berani memandang ke arah atasannya. "Kenapa kau ingin mengundurkan diri wahai karyawanku yang setia?" si karyawan terdiam tapi dia melawan rasa takutnya itu dan menjawab, "Maafkan saya pak, tapi menurut saya anda sudah berlaku tidak adil" sambil menunduk lebih dalam lagi menanti keputusan dari atasannya.

Tetapi setelah lama menunggu atasannya tidak mengatakan apa-apa, dengan keberanian yang tersisa pelan-pelan si karyawan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah sang atasan. Begitu terperanjatnya dia saat melihat atasannya sedang menangis dan dia segera mohon pamit dari hadapan atasannya tersebut karena tidak ingin mengusik atasannya lagi.

Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, sang atasan dikhabarkan meninggal dunia, seorang kurir dari kuasa hukum atasannya mengirimkansepucuk surat kepadanya. Dengan penasaran dia segera membaca isi surat itu. "Karyawanku,... perlu engkau ketahui bahwa aku sangat menyayangimu... aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali kamu dan aku tidak ingin kau jauh dariku seperti karyawan-karyawan lain yang telah berubah derajat hidupnya, sehingga aku menyimpan hadiah untukmu sampai pada akhir hayatku.  ini  adalah semua kekayaan dan aset-aset perusahaan milikku, ambillah dan gunakanlah dengan bijak, hubungi kuasa hukum ku, beliau akan mengatur semuanya untukmu!".

Bagaikan tersengat listrik ribuan volt si karyawan terkulai lemas di kursinya tanpa dapat mengatakan apa-apa, sesaat setelah dia merasa kekuatannya terkumpul dia segera berlari menuju pusara sang atasan dan menangis tersedu-sedu disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar